bukan mesin

dew,

hujan itu membawa trilyunan udara segar setelah kemarau panjang.

beuh.

lantas apa yang membuat jantung tetap berdetak selepas serangan yang mematikan?

pengharapan?

atau hidup itu sendiri?

*sebuah posting lama dari rumah yang lain.

count for much

ada satu hal yang saya suka dari mas sipit.

ia tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih, di penghujung hari. saat kerja sudah usai dan saya berpamitan pulang.

terima kasih untuk apa? pernah saya tanyakan begitu.

“terima kasih untuk hari ini, karena sudah bekerja dengan baik. terima kasih sebab telah membantu menyelesaikan pekerjaan”, jawab mas sipit.

sebuah reward. apreasi terhadap tugas yang saya kerjakan. padahal buat saya menyelesaikan tugas dengan baik adalah bagian dari pekerjaan, tanggung jawab sebuah komitmen sebagai seorang karyawan. tetapi mas sipit melihat lebih. dan ucapan terimakasih yang tulus adalah penghargaan tak ternilai.

sepele namun bermakna besar. memberikan feedback positif untuk hari selanjutnya. pujian tak sebanding dengan ucapan terima kasih tulus yang keluar dari mulut.

lagi, sebuah pelajaran. mengucapkan terima kasih itu murah bahkan tanpa biaya but count for much.

berterima kasihlah kepada OB yang sudah menyediakan minuman hangat setiap pagi, untuk sopir kantor yang rutin mengantar jemput bahkan untuk udara segar yang bisa kita nikmati setiap hari, sudah selayaknya kita berterima kasih.

karena, meskipun doa yang bisa kita panjatkan sepanjang hidup hanyalah sebuah ucapan terima kasih itu sudah sangat mencukupi.

jadi, sudahkah berterima kasih di hari ini?

Tuhan dari Poci dan Panci

Tuhan dari setiap poci dan panci,

aku tak punya cukup waktu, bukan pula seorang ahli,

untuk menjadi anak-Mu dengan mengerjakan yang suci suci.

Tapi jadikanlah aku anak-Mu melalui makanan yang kusaji.

Jadikanlah aku anak-Mu melalui piring-piring yang kucuci.

Hangatilah dapur ini dengan dengan kasih-Mu.

Terangilah dapur ini dengan sinar-Mu.

Sama seperti ketika Engkau menyajikan makanan di tepi danau atau ketika perjamuan malam.

Dan terimalah pekerjaanku yang sehari-hari ini, yang kukerjakan bagi Engkau sendiri

*sajak pekerja rumah tangga – noname.

tanjoubi omedetou

4 times birthday, 3 times you lost your hand phone, you call my name more than 25 times per day, you can’t figure out how to use photocopy machine, you can’t leave sprite ‘dingin’, your desk is always untidy, but you share your chocolate and i’m still live work with you. long life mas sipit😉. otanjoubi omedetou gozaimasu.

dead lock!

apa yang harus kamu lakukan ketika kamu tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan?

tuhan tua?

saya pikir tuhan itu punya kapasitas memory sangat besar, bahkan tidak terbatas. tak hanya 1GB atau 120 GB, bisa jadi dia punya berjuta juta giga.

tapi mengapa masih banyak hal yang sepertinya tuhan lupa?

apa tuhan terlalu tua untuk mengingatnya?

*bukan, bukan pertanyaan. hanya sebuah pop up thought saja😉

tak perlu ada judul

tuhan itu bukan diktaktor absolut.

selain bercerita tentang margaritha, ia juga kerap kali meladeni pertanyaan tak penting saya dengan jawaban ajaib.

kebingungan saya tentang tuhan bertahun lalu dijawab dengan cara yang unik. tak ada penjelasan lebih lanjut. saya pun harus mencari tahu dan memaknai jawaban di atas seorang diri. sementara pertanyaan pertanyaan lain terus berdentam di kepala. membingungkan.

walau butuh waktu yang cukup lama namun pada akhirnya saya menemukan satu pemaknaan atasnya.

bahwa tuhan ternyata bisa diajak berdialog.

sejak saat itu saya tak pernah lagi mempertanyakan tentang tuhan, juga cara caraNya bekerja. saya berhenti sebab tuhan memang tidak patut untuk dipertanyakan, meski bukan diktaktor yang absolut tapi tuhan sendiri adalah absolut. jadi tak usahlah saya pusing menyoal tentang bagaimana, mengapa dan dimana DIA.

dan sore ini, mendadak saya rindu seorang kawan. kawan yang bercerita tentang negeri pizza dan kuil yunani di atas bukit.

ciao sir, come sta?



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.