pelecehan seksual bisa terjadi kapan dan di mana saja seperti yang dialami oleh pakar kebangeten kemarin. tidak hanya di tempat tempat umum tetapi juga areal perkantoran.
diskriminasi seks yang berdasar pada gender. entah sebab budaya patriarki di masyarakat dan anggapan bahwa kaum pria lebih tinggi levelnya dibanding perempuan sehingga membuat perilaku tidak menyenangkan terhadap wanita tersebut tak berkesudahan. bahkan ketika bersikap sesantun mungkin. selalu saja ada celah yang bisa dimanfaatkan pelaku. tidak pandang bulu.
demikian juga di lingkungan pabrik setrum ini.
ibarat perawan di sarang penyamun. demikian saya menggambarkan kondisi pekerja wanita di proyek setrum ini, dengan perbandingan 2 pekerja wanita dalam satu kantor yang berisikan 15 orang.
potensi terjadinya tindakan pelecehan sangatlah besar. secara verbal pun ketika seseorang mengeluarkan komentar nakal berkonotasi seks, itu bisa dianggap sebagai sebuah pelecehan apalagi main mata, siulan nakal dan ajakan berkencan.
untungnya penghuni kantor saya termasuk golongan orang orang beradab, sehingga bisa dipastikan tak ada oborolan yang bernada melecehkan apalagi tindakan ke arah sana.
perilaku tidak menyenangkan tersebut justru datang dari orang orang di areal sub kontraktor. dalam bentuk verbal.
celotehan miring yang memerahkan telinga, bagaimana tidak jikalau kalimat yang dikeluarkan adalah seperti ini;
‘kita jalan-jalan berdua nanti kamu boleh milih hotel mana saja yang kamu suka’ atau begini ‘emang harga situ berapa?’
beberapa tahun bekerja lapangan seperti ini, membuat saya bisa membedakan mana obrolan yang sekedar guyon, mana yang bermakna serius. dan kalimat di atas jelas tidak mungkin diartikan sebagai gurauan semata.
sekeras apapun, usaha kami untuk menutup akses terjadinya pelecehan seperti melindungi diri sendiri dengan membatasi koridor percakapan, tidak terlibat dalam obrolan yang bersifat pribadi, dan mencoba bersikap profesional. tetap saja tak bisa menghentikan perbuatan tidak menyenangkan tertuju pada kami.
pfiuh…medan perang yang cukup sulit untuk ditaklukan.
saya ingat suatu ketika ada seorang safety officer yang iseng memegang tangan, saya kaplok saja. saya bilang keras keras, ‘don’t you ever do that again!!!’
maklum saja, saya bukan jenis orang yang ramah dan bisa menanggapi semuanya dengan senyuman. jadi saya memilih untuk melawannya dengan tegas.
bekerja di proyek bukanlah sebuah pembenaran untuk dapat melakukan tindakan asusila terhadap pekerja wanita. bukan pula sebuah alasan untuk tidak bisa bersikap alim. dengan dalih, kesepian misalnya.
benarkah faktor kultural? mengingat pelaku justru adalah bangsa sendiri dan bukan para expatriate. mas sipit saja, bersikap jauh lebih santun.
saya hanya berpikir, betapa ketidakmampuan seseorang mengikat napsunya tersebut bisa sangat meresahkan orang lain. membuat seseorang merasa terhina secara mental.
tingkat pendidikan dan jabatan tertentu tidak menjamin seseorang bisa menghargai orang lain. bahkan justru karena merasa punya kedudukan dan uang lebih maka bisa memperlakukan orang dengan seenaknya.
what a world!



Aprikot's Friends Said